Kamis, 03 Januari 2013

sang kumbang dan peri kecil


Dibawah langit senja, duduk seorang peri kecil diatas bebatuan dengan wajah tertunduk lesuh. Dari kejauhan, sang kumbang yang telah lama mengamati peri tersebut mulai penasaran. Ia pun mulai mendekat dan mendekat ke arah sang peri. Namun, ia tak bisa lebih dekat lagi. Ia sadar bahwa harus menjaga jarak dengan seorang peri.
Konon, seekor serangga termasuk kumbang tak diijinkan tuk bertatap muka dengan peri. Nantinya tubuh serangga akan lemah dan perlahan berubah menjadi bunga. Begitu pula dengan sang peri. Tubuhnya akan mengecil dan kekuatannya akan musnah. Tapi, semakin lama sang kumbang tak dapat menahan diri. Ia tak sanggup menahan pedih yang dirasakannya saat melihat salah satu sayap sang peri patah. ‘aku harus menolongnya’, batin sang kumbang. Ia pun memberanikan dirinya untuk mendekat ke arah si peri tersebut.
Si peri begitu terkejut dan terperanjat kaget saat melihat ada seekor kumbang berdiri tepat dihadapannya. “kumbang? Apa yang kau lakukan disini? Pergilah sebelum dewa langit melihat kau dan aku.” Seru si peri. Namun sang kumbang tak juga beranjak dari tempatnya dan tetap berdiri menatap sayap si peri yang patah. Hal ini membuat si peri makin tak kuasa untuk menahan rasa marahnya. “demi dewa langit, ada apa denganmu. Cepat pergi!!!kau bisa dalam bahaya.” bentak si peri. Sang kumbang pun mulai mendekat ke arah sayap peri yang patah dan berkata, “aku hanya ingin membantu mu. Aku tahu sayapmu patah dan kau tak mampu terbang tinggi.”. “bagaimana mungkin? Kau tak mungkin bisa membantuku. Sebaiknya kau pergi. Jangan hiraukan aku” Ucap si peri. Sang kumbang hanya tersenyum mendengar ucapan si peri dan ia tetap bersikeras menolong peri tersebut. Perlahan ia mulai mematahkan salah satu sayapnya dan memberikannya kepada sang peri.
Si peri yang berada tepat dihadapannya hanya bisa diam terpaku melihat yang dilakukan sang kumbang. Air matanya mulai menetes dan ia tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia tak sanggup menahan sang kumbang. Gerakan sang kumbang begitu cepat. Saat itu juga Ia tersadar dan beranjak dari tempatnya menopang tubuh kumbang yang mulai lemas. “apa yang kau lakukan?kenapa kau mematahkan sayapmu yang berharga itu. .” seru si peri dengan berlinang air mata. “kau tahu kan bahwa hanya sayap dari kami yang mampu mengembalikan sayapmu seperti sedia kala. Dan aku tak ragu tuk memberikannya kepadamu. Walaupun aku harus mengorbankan nyawaku.” Jawab sang kumbang.  “aku tak mampu menerima ini. Lebih baik aku tak bisa terbang untuk selamanya.” Tangis si peri. Dengan tenang, sang kumbang berkata “kau telah menyelamatkanku disaat aku terjebak diantara dua burung yang akan memangsaku. Tanpa ragu kau menyelamatkanku. Ijinkan aku tuk membalas kebaikanmu dan berubah menjadi bunga. Dengan begitu aku akan tetap bisa melihatmu setiap saat.”

2 komentar: