Dibawah langit senja,
duduk seorang peri kecil diatas bebatuan dengan wajah tertunduk lesuh. Dari
kejauhan, sang kumbang yang telah lama mengamati peri tersebut mulai penasaran.
Ia pun mulai mendekat dan mendekat ke arah sang peri. Namun, ia tak bisa lebih
dekat lagi. Ia sadar bahwa harus menjaga jarak dengan seorang peri.
Konon, seekor serangga
termasuk kumbang tak diijinkan tuk bertatap muka dengan peri. Nantinya tubuh
serangga akan lemah dan perlahan berubah menjadi bunga. Begitu pula dengan sang
peri. Tubuhnya akan mengecil dan kekuatannya akan musnah. Tapi, semakin lama
sang kumbang tak dapat menahan diri. Ia tak sanggup menahan pedih yang
dirasakannya saat melihat salah satu sayap sang peri patah. ‘aku harus
menolongnya’, batin sang kumbang. Ia pun memberanikan dirinya untuk mendekat ke
arah si peri tersebut.
Si peri begitu
terkejut dan terperanjat kaget saat melihat ada seekor kumbang berdiri tepat
dihadapannya. “kumbang? Apa yang kau lakukan disini? Pergilah sebelum dewa
langit melihat kau dan aku.” Seru si peri. Namun sang kumbang tak juga beranjak
dari tempatnya dan tetap berdiri menatap sayap si peri yang patah. Hal ini
membuat si peri makin tak kuasa untuk menahan rasa marahnya. “demi dewa langit,
ada apa denganmu. Cepat pergi!!!kau bisa dalam bahaya.” bentak si peri. Sang
kumbang pun mulai mendekat ke arah sayap peri yang patah dan berkata, “aku
hanya ingin membantu mu. Aku tahu sayapmu patah dan kau tak mampu terbang
tinggi.”. “bagaimana mungkin? Kau tak mungkin bisa membantuku. Sebaiknya kau
pergi. Jangan hiraukan aku” Ucap si peri. Sang kumbang hanya tersenyum mendengar
ucapan si peri dan ia tetap bersikeras menolong peri tersebut. Perlahan ia
mulai mematahkan salah satu sayapnya dan memberikannya kepada sang peri.
Si peri yang berada
tepat dihadapannya hanya bisa diam terpaku melihat yang dilakukan sang kumbang.
Air matanya mulai menetes dan ia tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia tak
sanggup menahan sang kumbang. Gerakan sang kumbang begitu cepat. Saat itu juga Ia
tersadar dan beranjak dari tempatnya menopang tubuh kumbang yang mulai lemas.
“apa yang kau lakukan?kenapa kau mematahkan sayapmu yang berharga itu. .” seru
si peri dengan berlinang air mata. “kau tahu kan bahwa hanya sayap dari kami
yang mampu mengembalikan sayapmu seperti sedia kala. Dan aku tak ragu tuk
memberikannya kepadamu. Walaupun aku harus mengorbankan nyawaku.” Jawab sang
kumbang. “aku tak mampu menerima ini.
Lebih baik aku tak bisa terbang untuk selamanya.” Tangis si peri. Dengan tenang,
sang kumbang berkata “kau telah menyelamatkanku disaat aku terjebak diantara
dua burung yang akan memangsaku. Tanpa ragu kau menyelamatkanku. Ijinkan aku
tuk membalas kebaikanmu dan berubah menjadi bunga. Dengan begitu aku akan tetap
bisa melihatmu setiap saat.”
sangarrrr. . kmu jadi penulis cerpen sekarang?
BalasHapushahhahaha itu dulu jeng. sekarang uda jarang nulis lagi :p
BalasHapus