Selasa, 06 Maret 2012

laut dan bintang

jalanan itu mulai sepi. hiruk pikuk manusia mulai reda perlahan. satu per satu orang berbondong-bondong tuk segera masuk ke dalam rumah. pamali jika keluar di malam hari, kata mereka. matahari pun sudah mulai terlelap, pertanda datangnya sang malam yang senantiasa membawa sang bulan. kala itu hanya suara angin malam yang mulai menguasai sekitar.
sedikit demi sedikit lantunan irama para kawanan jangkrik dan hewan malam lainnya mulai terdengar. bintang yang kala itu tengah berlari sekuat tenaga tiba-tiba muncul ditengah jalanan yang mulai sepi. ia berlari kencang dari utara hendak kembali pulang ke rumah. rasa takut terus menyelimuti dirinya. malam sudah datang dan ia pun tak tau kemana arah pulang.
sejak pagi buta ia keluar dari rumah dan pergi ke pelabuhan. tak ada yang tau kemana ia pergi. seharian ibu mencari dirinya, takut bila ia tak tau jalan pulang. dan benar saja, hari sudah petang tapi bintang tak juga menampakkan batang hidungnya. sendiri dijalanan tak tau harus kemana membuatnya semakin bingung hingga tubuhnya pun terhuyung jatuh ke tanah. tak mampu lagi menopang tubuhnya yang telah berlari jauh.
sejak kepergian ayahnya, ia semakin tak karuan. tiap malam tubuhnya menggigil karena demam dan meraung-raung tak terkendali. sang ibu -yang telah terbiasa dengan kondisinya yang seperti itu dari kecil- mulai tak sanggup menghadapi bintang yang semakin susah diatur. semenjak usia 4tahun, dokter mendiagnosa bahwa ia menderita penyakit autis.
sehari-hari hanya berteman dengan pancing dan kail. tak ada yang mau berteman dengan dirinya. mereka hanya bisa mencela dan merendahkannya. tingkah laku dan pola pikirnya memang dibawah rata-rata untuk gadis seusianya. wajar jika tak ada yang mau berteman. namun ia punya semangat yang tinggi dalam berlayar. semasa hidup ayahnya, ia slalu ikut berlayar mengarungi lautan mencari tangkapan ikan. laut bagaikan rumah kedua baginya. belaian lembut angin laut mampu membuatnya tenang dan bahagia. ayahnya tahu betul bahwa ia sangat suka dengan laut.
setiap harinya ia dan ayahnya pergi ke pelabuhan untuk berlayar ataupun sekedar merasakan hembusan angin ditepi pantai. tapi semua itu hanya kenangan sekarang. dua minggu setelah kepergian ayahnya, tak pernah lagi ia menyentuh lautan. tak ada yang mau menemaninya selain sang ayah. tak tahan hanya terdiam didalam rumah, ia pun pergi ke pelabuhan berharap ayahnya menunggu disana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar