dia.. dia berlari kencang dengan kedua kakinya yang mungil. tanpa takut lelah, ia tetap terus lari dan berlari. keringat bak air hujan yang baru saja mengguyur sekujur tubuhnya. basah semua. namun hal itu tak mengurungkan niatnya tuk tetap terus berlari. nampaknya tak ada kata kata lelah dalam kamus hidupnya. tak ada kata menyerah. yang ia tahu hanyalah tetap terus melaju berlari dan berlari. entah sampai kapan ia akan terus berlari. ia pun tak mau berhenti tuk sekedar merebahkan tubuhnya yang mulai sempoyongan. baginya lebih baik sempoyongan daripada tak mendapat sepeser rupiah. terkadang ia berpikir, apakah dirinya akan begini terus. sehari-harinya hanya berlari. berlari sekencang mungkin menghindari amukan warga yang kesal dengan kelakuannya. tapi hanya itu satu-satunya harapan baginya untuk dapat terus hidup.
dia terlalu belia tuk dipaksakan memahami kehidupan ini. yang mampu dia pahami hanyalah bagaimana memenuhi kebutuhan perutnya setiap hari. dia memang bukan anak yang beruntung. terlahir tanpa dosa dan haus akan belaian lembut seorang ibu dan ayah. latar belakang tanpa dekapan hangat seorang ibu membuatnya menjadi sedikit liar. orang mengira dia anak yang nakal, tak berpendidikan, tak bisa diatur, dan sebuah masalah. tapi apa pedulinya dengan ucapan orang. baginya mereka hanya bisa mengejudge dan tak mampu membuat perutnya kenyang dengan semua bualan ucapan mereka. setiap hari yang terbesit dalam benaknya hanyalah apakah hari ini dia dapat makan atau tidak, apakah hari ini dia dapat memperoleh mangsa hariannya, dan apakah dia mampu berlari lebih kencang dari kemarin tuk menghindari amukan orang.
dia terlalu belia tuk dipaksakan memahami kehidupan ini. yang mampu dia pahami hanyalah bagaimana memenuhi kebutuhan perutnya setiap hari. dia memang bukan anak yang beruntung. terlahir tanpa dosa dan haus akan belaian lembut seorang ibu dan ayah. latar belakang tanpa dekapan hangat seorang ibu membuatnya menjadi sedikit liar. orang mengira dia anak yang nakal, tak berpendidikan, tak bisa diatur, dan sebuah masalah. tapi apa pedulinya dengan ucapan orang. baginya mereka hanya bisa mengejudge dan tak mampu membuat perutnya kenyang dengan semua bualan ucapan mereka. setiap hari yang terbesit dalam benaknya hanyalah apakah hari ini dia dapat makan atau tidak, apakah hari ini dia dapat memperoleh mangsa hariannya, dan apakah dia mampu berlari lebih kencang dari kemarin tuk menghindari amukan orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar