bosan bosan dan bosan.. dateng terus tanpa sungkan. sendiri. enggak ada temen. cuma sendiri sambil tetap setia dudk manis didepan meja komputer. mungkin lama-lama aku akan terbiasa dengan semua kesendirian ini. hari-hari tanpa kawan dan kekasih. hahh..
kadang bingung juga hari ini mau apa, setelah ini mau apa, terus apa lagi dan apa apa apa yang selalu muncul dalam benak. bukannya mengeluh tapi rasa-rasanya ada yang hilang dan kurang dalam hidupku. yakni hadirnya sahabat, kawan dan kekasih yang harusnya ada untuk mewarnai hari-hariku. tapi nyatanya semuanya hanyalah angan-angan dan harapan yang tak kunjung datang. ingin rasanya kembali ke masa-masa sma. masa-masa yang kata orang masa yang paling enak. dan itu emang bener banget. semuanya ada disma. mulai dari sahabat, temen main, gebetan, pacar,dll. lah sekarang??NOTHING...
liburan uda mau selesai dan bentar lagi waktunya kembali ke habitat asal yakni kampus. kampus yang harusnya jadi rumah keduaku tapi nyatanya hanyalah tempat yang memaksaku mau tak mau harus pergi kesana tiap hari unutk mencari ilmu dan nilai. tak lebih. karena tak ada sahabat dan teman yang aku dapat disana. sendiri sepi dan berasa asing yang ada. entahlah kemana semua teman dan sahabat yang kucari. semuanya entah pergi berlalu dan tak kembali.
arrrghhhhh bisa gila aku lama-lama disini.. ingin pergi tapi tak sanggup. aku harus bagaimana tuhan??aku bingung dengan semua ini. semua ini membuatku semakin muak dan jenuh. aku bingung........
Kamis, 26 Januari 2012
Rabu, 25 Januari 2012
sekotak susu vanilla
Untuk kesekian kalinya aku hanya termenung dalam lamunan lelapnya malam. Sekali lagi aku teringat akan malam itu. Tepatnya 3 tahun yang lalu. Yah hari itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengan dirimu. Dan hari itu pula, aku merasakan lagi getaran cinta yang telah lama tak datang menghampiriku. Di mini market itu, kau memberikan padaku sekotak susu cair vanilla yang hanya tesisa satu buah dilemari es. Yang seharusnya itu adalah milikmu karena kau yang lebih dulu meraih pintu gagang lemari es itu. Tapi kau malah tersenyum kearahku dan memberikan susu cair itu kepadaku. “nih ambil aja” serunya. Aku yang saat itu masih linglung –melihatmu tersenyum sambil memberi sekotak susu cair- hanya bisa mengangguk tak mampu berkata. ‘tampan juga nih cowok’, batinku. Lalu kau pergi begitu saja menuju ke bagian makanan dan akupun mulai tersadar dari lamunanku. Seketika itu, akupun mengejar dan menghampirimu untuk mengucapkan terima kasih. “ehh.. makasih yah. Ga apa-apa nih aku ambil?” tanyaku. Berdiri disampingmu sungguh membutaku terbuai merasakan aroma tubuhmu yang begitu segar dan semakin membuatku terpesona akan indah wajahmu. Lalu sambil tersenyum kau menatapku dan berkata, “oh iya ga apa-apa ambil aja. Aku masih bisa beli itu lain hari kok hhe” katanya. Saat itu juga terlintas dalam benakku untuk bisa lanjut mengobrol denganmu. Namun, pikiranku saat itu jadi tak karuan, tak mampu berpikir tuk sesaat. “hmm, kalau gitu aku ganti deh sama barang lain. Biar impas” kataku. Entahlah aku tak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Speechless banget rasanya. Saat itu yang ada dibenakku hanya berharap aku dan dirimu bisa melanjutkan obrolan ini.
Lalu kau tersenyum sejenak dan berkata, “ga usah deh. Anggap aja kamu yang lagi beruntung hhe”. Duh, nih orang bikin hatiku makin ga karuan aja. Aku emang beruntung banget tahu, bisa ketemu cowok kayak kamu, batinku. Tampaknya dia adalah sosok yang aku cari. Santai, cool dan bisa buat aku nyaman meskipun baru ketemu. Uda punya cewek ga ya??. “kalau gitu aku duluan yah. Oh iya, aku Erick. Kamu siapa?” serunya. Alamak.. terima kasih tuhan akhirnya dia mengajakku tuk berkenalan. Lama ku tunggu akhirnya Engkau mendengar permohonanku. Thank’s God.. “aku nina..” jawabku. “oke nina sampai ketemu lagi yaa..” serunya sambil berlalu dan pergi.
Satu minggu setelah pertemuan itu, kami pun tak sengaja bertemu kembali di mini market itu. Kala itu aku sedang mengambil sekotak susu cair vanilla yang sama saat aku bertemu dengannya. Tak ada bayangan sebelumnya bahwa kami akan bertemu kembali disana. Tiba-tiba dari belakang ada yang memegang pundak dan memanggilku. Ternyata itu adalah dirimu. “nina?? Kamu nina kan? Masih ingat aku enggak, aku Erick yang minggu lalu ngasih kamu sekotak susu cair itu” katanya. Tentu saja aku masih ingat jelas dengan dirimu. Wajahmu begitu melekat dalam benakku. Tapi aku tak menyangka bahwa kau masih mengingatku dan menyebut namaku. Senang rasanya hingga aku ingin teriak kegirangan. Namun, aku tak berani menampakkan kepadamu raut senang diwajahku. Aku terlalu malu. Aku hanya berusaha bersikap sebiasa mungkin didepanmu. “Erick? Oh iya-iya aku ingat. Enggak nyangka yah kita bakal ketemu lagi disini” jawabku.
![]() |
Berawal dari sekotak susu cair vanilla, pertemuan kami pun berlanjut dari sebuah obrolan biasa, saling mengenal lalu jalan bareng. Terkesan singkat memang. Tapi kami bisa menjadi saling akrab satu sama lain hanya dalam beberapa waktu. Mungkin karena dia begitu ramah, santai, apa adanya dan bisa membuatku merasa nyaman. Dari situ tak bisa dipungkiri bahwa hati ini mulai tergoda untuk bisa singgah dihatinya. Aku dan dia kebetulan kuliah dikampus yang sama. Tepatnya dia difakultas teknik dan aku difakultas mipa. Yang kebetulan juga gedung kami terletak bersebelahan. Awalnya aku tak menyangka bisa sedekat ini dengan dirinya. Setiap hari kami bertemu, entah itu sekedar makan atau jalan berdua. Layaknya sepasang kekasih tetapi tak ada ikatan apapun diantara kami. Dan aku mulai bimbang tak karuan akan perasaanku padanya. Ingin rasanya mengungkapkan isi hati ini tapi aku tak yakin apa aku mampu mengutarakannya. Aku takut kami tak bisa seperti ini lagi nantinya. Nampaknya rasa ini memang untuk kusimpan dalam hati saja.
Sampai suatu hari aku dibuat terkejut dengan ucapannya. Saat itu, sepulang kuliah dia mengajakku pergi ke suatu tempat. Dia bilang ada yang mau disampaikan kepadaku. Aku hanya bisa mengangguk dan ikut dengannya. Sesampainya disebuah taman, dia masih tetap terdiam dan nampak murung. Sejak tadi sikapnya memang aneh. Selama dijalan dia pun diam tak berkata apa-apa. Lalu dia menarik tanganku dan mengajakku berjalan ke tepi danau. Disana dia mulai berkata meskipun tampak sedikit dipaksakan. “ehh.. nin, besok lusa aku mau pergi” ucapnya. Nih anak kenapa sih, mau pergi aja pake’ acara pamit kayak gini. Biasanya juga ga bilang. Paling juga sms doank, pikirku. “yaudah, emang mau kemana sih. Kok tumben amat pamit gini?Biasanya juga ngomong lewat telepon” jawabku. Wajahmu saat itu langsung berubah dan tampak makin kebingungan. Kau membuatku bingung dengan sikapmu yang mendadak aneh. Aku hanya bisa berharap tak ada sesuatu yang terjadi.
“aku. . aku mau pindah ke amrik,nin. Ayahku dipindah kerja ke Amrik dan aku juga harus ikut pindah kesana” ucapnya. Saat itu juga detak jantungku terasa berhenti seketika dan seakan semuanya terasa hilang begitu saja dari diriku. Aku tak mampu berpikir dan berkata apa-apa. Yang ada dipikirannku hanya Erick. Orang yang ada dihatiku dan sekarang dia akan pergi tanpa dia tahu isi hatiku. “nin, kamu kok diem? Kamu ga apa-apa kan,nin?” Tanya Erick. “err. . rick, kayaknya aku harus balik sekarang. Abangku tadi janji mau jemput ke kampus” kataku tanpa tahu harus berkata apa lagi. Seketika itu aku pergi dan mengabaikannya. Berlari dan berlari, aku berusaha menghindarinya. Kuhentikan taksi dan pergi begitu saja tanpa menghiraukan Erick yang mengejarku. Tetes demi tetes air mataku pun jatuh dan rasa sakit didalam hati makin menyesakkan dada.
Malam pun tiba, Erick datang ke rumahku. Awalnya aku tak ingin bertemu dengannya tapi mau tak mau aku harus menemuinya sebelum dia pergi. “nin, aku tahu kamu pasti kecewa dan marah. Aku sendiri juga masih belum bisa percaya sama hal ini. Tapi kamu jangan bersikap kayak gini donk,nin” katanya. “ehm, , kamu uda nyiapin semua barang-barangmu?” tanyaku. Aku bingung mau berkata apa. Pikiran dan jiwaku tak mampu menyatu. Saat itu juga air mataku tak mampu kubendung dan aku pun tertunduk dan menangis. Erick mendekat dan memelukku. Mencoba menenangkanku dengan dekapannya yang begitu hangat dan damai. Sebentar lagi takkan ada sentuhan hangat dan damai yang bisa kurasakan darinya. Tak ada lagi orang yang akan memberi warna dalam hidupku. “aku sayang sama kamu,rick. Please jangan pergi. Kalau kamu ga ada disini terus aku gimana?”. Kata-kata itu pun akhirnya terucap begitu saja dari bibirku. Rasanya tak tahu apa lagi yang harus dikatakan. “aku juga sayang banget sama kamu,nin. Aku cinta sama kamu tapi aku harus pergi. Aku ga bisa ninggalin ayahku sendirian disana” jawabnya. Semakin erat kupeluk dirinya. Rasanya tak mau kulepas dekapan ini. Aku tak mau dia pergi. Tuhan, jangan biarkan dia pergi dariku. . aku mohon, bisikku dalam hati.
2tahun kemudian,,
Dua tahun berlalu namun bayangan Erick masih melekat dalam benakku. Kuakui diri ini tak mampu melepas bayangnya. Walaupun semenjak kepergiannya, tak ada kabar lagi dari dirinya. Aku tak tahu dimana dia sekarang, sedang apa dan seperti apa dia sekarang. Aku hanya bisa berharap suatu hari dia akan kembali kesini dan memelukku lagi dengan dekapan hangatnya.
Malam itu, nampaknya tuhan berkehendak mempertemukan kami kembali. Tuk kesekian kalinya kami bertemu di mini market yang sama, tempat dimana dulu kami bertemu. Aku tak menyangka bahwa dia tetap Erick yang dulu. Sepintas tak ada yang berubah darinya secara fisik. Rambutnya tetap tak beraturan seperti waktu kami bertemu dulu. Bergaya simple, hanya mengenakan t-shirt dan celana jeans. Wajahnya secerah mentari pagi yang selalu memberi energi, dan senyumnya yang manis selalu mendatangkan kedamaian hati. Senang rasanya bisa melihat lagi wajah yang telah lama pergi. Wajah yang selama ini kurindukan dalam mimpi. Sekarang wajah itu tepat berada dihadapanku. Kami saling memandang sesaat. Memastikan bahwa orang yang ada dihadapan adalah orang yang kami kenal.
“kamu gimana kabarnya,nin?” Tanya Erick yang memulai obrolan dalam heningnya suasana malam dijalanan blablabla itu. Kami berjalan menyusuri trotoar yang ada didepan cafĂ© dan distro yang sudah mulai bergegas akan tutup. Saat itu waktu menunjukkan tepat pukul 11 malam, Jalanan pun sudah mulai sepi. Tinggal kami berdua yang masih setia untuk menghabiskan malam disepanjang jalanan ini. Lama sudah kami tak pernah lagi melewati daerah ini. Dulu kami sering menghabiskan waktu luang hanya untuk berjalan menyusuri daerah ini sambil mengobrol. “menurut kamu?” jawabku ketus. Jujur aku masih marah padanya walau tak bisa kupungkiri bahwa aku masih sayang padanya. Namun aku juga ingin dia tahu bahwa betapa tersiksanya diriku tanpa dirinya. “kamu masih marah yah? Aku emang salah,nin. Aku… “. “aku apa? Kamu jahat yah. . kamu datang gitu aja kedalam kehidupanku, memenuhi hidupku penuh dengan segala tentang kamu, memberiku sejuta harapan lalu pergi gitu aja secara mendadak tanpa ada kabar. Uda puas kamu?” seruku. Erick hanya diam dan menatapku dengan tatapannya yang damai. Memandangiku sejenak lalu dia menarik tubuhku kedalam dekapan hangatnya. Dia memelukku dengan erat seakan dia tahu betul bagaimana cara menenangkanku yang sedang marah. Lama aku hanyut dalam dekapan hangatnya hingga air mataku pun mulai menetes. , “jangan marah lagi yah. Aku enggak akan kemana-mana lagi kok” ucapnya sambil terus memelukku erat dan mengusap rambutku dengan lembut.
“sekarang kita mulai semuanya dari awal lagi yah. Aku janji enggak akan pergi ninggalin kamu sendiri lagi” ucapnya. Kali ini ucapannya benar-benar membuatku bingung tak sanggup berkata. Aku harus bagaimana. Aku tak mungkin membohonginya. Aku harus mengatakan semua kepada dirinya. Lama aku memandangi wajahya sambil terus menggenggam erat tangannya. Aku tahu aku tak mampu melupakannya dengan mudah namun diri ini sudah terlanjur mengikat janji dengan yang lain. “aku enggak bisa,rick. Udah terlalu lama kamu ninggalin aku. Kamu enggak pernah ngasih kepastian ke aku. Dan selama kamu pergi, kamu juga enggak ada kabar” jawabku. Aku tahu kau pasti akan terkejut dan kecewa dengan ucapanku ini. Tapi aku tak sanggup kalau suatu hari nanti kau pergi lagi tanpa ada kejelasan. Maafin aku Erick, bisikku dalam hati. Aku sadar bahwa keputusanku ini akan melukai dirimu dan diriku juga. Tapi aku tak bisa terus-terusan seperti ini. Menanti dirimu yang tak pernah ada kepastian. “maksud kamu apa,nin? Aku janji enggak akan ninggalin kamu sendirian lagi. Kasih aku satu kesempatan lagi buat nebus dua tahun yang berlalu. Aku tahu kamu masih sayang sama aku. Kamu enggak bisa bohongin perasaanmu kayak gini” Katanya. “kamu itu terlalu abu-abu buat aku. Aku enggak mau lagi hanyut kedalam ketidakpastianmu. Kita sampai disini aja. Anggap kita uda enggak pernah ketemu semenjak dua tahun yang lalu” seruku.
Berlari kupergi meninggalkannya. Terus dan terus berlari tanpa menghiraukan dirimu yang terus mengejarku dari belakang. “ninaa. . tunggu,nin. Dengerin aku dulu. .” serunya sambil terus berlari mengejar diriku. Hingga akhirnya kami terpisah diperempatan jalan itu. Saat itu kau hendak berlari mengejarku dari seberang jalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi muncul dari arah kiri menuju ke arahmu. Mobil itu pun pergi begitu saja tanpa menghiraukan dirimu yang telah jatuh terlentang tak berdaya akibat tertabrak. Diri ini hanya bisa diam terpaku melihatmu terkapar ditengah jalan. Lalu kuteriak sekencang-kencangnya memanggil namamu. Berulang-ulang kupanggil namamu sambil terus mengusap wajahmu yang penuh dengan darah. Tapi tak ada jawaban apapun darimu. Kau begitu lemah dan tak berdaya. “erickk. . bangun. Kamu enggak boleh pergi ninggalin aku lagi. Bangun Erick!! Kamu uda janji kan sama aku.. kamu enggak boleh pergi Erick. Erickkkk. . .!!!” teriakku.
Sejak saat itu, kau benar-benar pergi dari kehidupanku. Meninggalkanku untuk selamanya dengan kenangan yang begitu menyesakkan jiwa. Aku hanya bagaikan orang linglung yang tak sanggup lagi berdiri tegak menghadapi hari. Aku benar-benar lemah. Semuanya kosong. Tak ada lagi yang akan mewarnai hidupku. Seandainya saat itu aku mau mendengarkanmu tuk sejenak, pasti saat ini kau masih ada disampingku. Memelukku dengan dekapan hangat tubuhmu dan membelai rambutku dengan belaian lembut kasihmu. Maafin aku Erick .. I love you.
Minggu, 15 Januari 2012
dia yang dijalanan..
dia.. dia berlari kencang dengan kedua kakinya yang mungil. tanpa takut lelah, ia tetap terus lari dan berlari. keringat bak air hujan yang baru saja mengguyur sekujur tubuhnya. basah semua. namun hal itu tak mengurungkan niatnya tuk tetap terus berlari. nampaknya tak ada kata kata lelah dalam kamus hidupnya. tak ada kata menyerah. yang ia tahu hanyalah tetap terus melaju berlari dan berlari. entah sampai kapan ia akan terus berlari. ia pun tak mau berhenti tuk sekedar merebahkan tubuhnya yang mulai sempoyongan. baginya lebih baik sempoyongan daripada tak mendapat sepeser rupiah. terkadang ia berpikir, apakah dirinya akan begini terus. sehari-harinya hanya berlari. berlari sekencang mungkin menghindari amukan warga yang kesal dengan kelakuannya. tapi hanya itu satu-satunya harapan baginya untuk dapat terus hidup.
dia terlalu belia tuk dipaksakan memahami kehidupan ini. yang mampu dia pahami hanyalah bagaimana memenuhi kebutuhan perutnya setiap hari. dia memang bukan anak yang beruntung. terlahir tanpa dosa dan haus akan belaian lembut seorang ibu dan ayah. latar belakang tanpa dekapan hangat seorang ibu membuatnya menjadi sedikit liar. orang mengira dia anak yang nakal, tak berpendidikan, tak bisa diatur, dan sebuah masalah. tapi apa pedulinya dengan ucapan orang. baginya mereka hanya bisa mengejudge dan tak mampu membuat perutnya kenyang dengan semua bualan ucapan mereka. setiap hari yang terbesit dalam benaknya hanyalah apakah hari ini dia dapat makan atau tidak, apakah hari ini dia dapat memperoleh mangsa hariannya, dan apakah dia mampu berlari lebih kencang dari kemarin tuk menghindari amukan orang.
dia terlalu belia tuk dipaksakan memahami kehidupan ini. yang mampu dia pahami hanyalah bagaimana memenuhi kebutuhan perutnya setiap hari. dia memang bukan anak yang beruntung. terlahir tanpa dosa dan haus akan belaian lembut seorang ibu dan ayah. latar belakang tanpa dekapan hangat seorang ibu membuatnya menjadi sedikit liar. orang mengira dia anak yang nakal, tak berpendidikan, tak bisa diatur, dan sebuah masalah. tapi apa pedulinya dengan ucapan orang. baginya mereka hanya bisa mengejudge dan tak mampu membuat perutnya kenyang dengan semua bualan ucapan mereka. setiap hari yang terbesit dalam benaknya hanyalah apakah hari ini dia dapat makan atau tidak, apakah hari ini dia dapat memperoleh mangsa hariannya, dan apakah dia mampu berlari lebih kencang dari kemarin tuk menghindari amukan orang.
Langganan:
Komentar (Atom)

