Seperti lebah dan madu, dua sejoli yang selalu bersama dan tak pernah terpisahkan. Layaknya pasangan yang saling mencintai dan melengkapi satu sama lain. Indah ..satu kata yang terucap bila melihat mereka bersama. Membuat iri mata yang melihatnya.
Namun, tak seindah yang dibayangkan. Tak pernah ada ungkapan rasa yang terucap diantara mereka. Tak ada ikatan, hanya pertemanan biasa. Sebatas itu tak lebih..
Gelisah selalu mengganggu pikiran si pena. Tak tahu apa arti dari gejolak hatinya. “apa yang sedang melanda hatiku ini wahai, pensil? “ Tanya si pena. Pensilpun terdiam, ragu untuk menjawab. Lalu ia berkata, “hei boy, Kenapa kau tanyakan hal itu padaku? tanyalah pada hati kecilmu apa yang sedang kau rasakan”.
Hari demi hari hanya perasaan bimbang dan rindu yang selalu terbesit dihatinya. Ia tak berani mengartikan perasaannya. Ia tak ingin menodai persahabatannya dg si kertas. Tetapi semakin dia menghindari persaannya, semakin besar rindu didalam hatinya. Yang terlintas hanyalah bayang-bayang indah wajahnya, gelak tawanya, senyumnya. Semuanya terasa begitu indah.. Tuhan,, ada apa dengan diriku ini. Apa aku jatuh cinta pada dirinya??.
00---------------------------------------------00
Sore itu diriku pun kalah akan perasaanku yang selalu megganjal didalam hati. Yah perasaan itu begitu kuat. Aku tidak bisa terus-terusan membohongi diriku bahwa aku memang jatuh cinta pada dirinya. Si kertas yang selalu ada dipikiranku, dihatiku.
“ijinkan aku untuk bisa menggoreskan tinta ku ini diatas tubuhmu untuk selamnya. Goresan dari hatiku yang paling dalam yang akan mengisi hari-hari indahmu.” Kata si pena yang akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakan perasaanya pada si kertas. Si kertas hanya diam dan terkejut. ‘ada apa dg dirinya’. tanya si kertas dalam hati. Lalu ia menjawab, “ kalau aku tidak mau bagaimana?”. Si pena hanya diam terpaku saat mendengar ucapan itu. Rasanya sungguh bagaikan tertusuk belati sedalam-dalamnya. Lalu dengan santai si kertas berkata, “bisa tidak kau wujudkan satu permintaan untuk ku?” seru si kertas.
00---------------------------------------------00
Hari itu begitu cerah. Sang mentari tampak bersemangat menyinari dunia dengan cahayanya yang indah. Namun, dari kejauhan pensil melihat si Pena sedang duduk tertegun dengan wajah kusut. “hai, boy ada apa lagi dengan dirimu. Kenapa engkau gelisah?” Tanya pensil. “aku bingung. Susah payah aku mengungkapkan perasaanku tapi alih-alih dijawab, dia malah mengajukan permintaan yang mustahil”. Dengan santai pensil berkata, “hahaha itu artinya dia sedang menguji kesungguhanmu boy. Sudahlah jangan murung terus. Kasian sang mentari yang sudah bersemangat pagi ini tapi kau malah bersedih”. Huh, dasar pensil, dia bisa bilang begitu dengan mudah karena dia tidak dalam posisiku. “bagaimana aku tidak murung boy. Sedangkan sang pujaan hatiku menginginkan sesuatu yang mustahil dariku.” Seru pena. “itulah cinta boy. Segalanya terasa seakan mustahil tapi apabila kau dengarkan isi hatimu , kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan. Tuhan selalu menyisipkan sesuatu yang misteri dalam cinta. Jadi janganlah kau ambil pusing dalam hal ini”.
Seharian otak ku penuh dengan segala ucapan si pensil dan permintaan si kertas. “aku mau sebuah istana yang didalamnya hanya ada aku seorang. Tak boleh ada orang lain selain aku”. Sesaat ucapan si kertas muncul lagi dalam benak si pena. Ahh.. harus bagaimana aku ini. Aku tak mungkin bisa membuat istana untuknya. Tapi kenapa kertas begitu mudah berkata bahwa ini semua bisa teratasi.. “dengarkan isi hatimu, kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan”. Lagi – lagi dengarkan isi hati tapi aku tak mendapat jawaban apa-apa dari hatiku. Pasti dia sudah membohongi aku, dasar pensil! Bagaimana mungkin aku bisa membuat sebuah istana untuknya?
00---------------------------------------------00
“kenapa kau minta sebuah istana kepadaku?” tanya pena. Sesaat aku melirik ke arahnya sambil mengagumi indah wajahnya. Indah seperti langit sore saat itu. Angin perlahan-lahan datang menerpa rambutnya membuatnya makin terlihat cantik.. “bukalah mata, hati dan telinga mu untuk melihat dunia. Aku hanya ingin sebuah istana itu jika kau memang tulus mencintai aku” jawab kertas. Alamak aku semakin bingung dibuatnya. Tapi sifatnya yang misterius ini lah yang membuat aku jatuh cinta padanya. Entah kenapa aku begitu linglung dihadapannya. Semua ucapannya begitu sederhana dan sangat dalam hingga aku tak tahu apa maksud dari ucapannya. “jika kau meragukan ketulusanku, kau salah. Aku benar-benar serius dengan ucapanku.” Seru pena. “kalau begitu buktikan ucapanmu padaku”.
00---------------------------------------------00
“setiap detik, setiap menit aku terus memikirkan permintaanmu. Tapi sampai detik ini aku tak harus apa dan bagaimana. Aku merasa permintaanmu adalah mustahil bagiku untuk memenuhinya. Aku hanya bisa memberikan hati dan jiwaku ini pada mu.” Ucap pena dengan nada lesu. Tuhan, entah apa yang baru saja aku lakukan. Bukan maksud hati ku untuk jadi orang pengecut atau apa, tapi aku tak punya apa-apa yang bisa ku berikan padanya.. aku hanyalah pujangga cinta yang bermodalkan cinta dan tak tahu malu untuk menyatakan perasaan pada si kertas. Matilah aku. Dia pasti kecewa dengan ucapanku dan pasti akan membenciku.
“hhhihi.. malang sungguh ucapanmu itu pena.” Kata kertas yang akhirnya membuka mulut memecahkan keheningan sesaat. Dia tersenyum lebar. Tak ada rasa kecewa atau marah yang nampak pada wajahnya. “aku tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Aku hanya butuh ketulusan hati mu pada ku. ketulusan dan kesatiaan dari hatimu itulah istana hati yang ku pinta darimu.”
Apa? Apa aku tidak salah dengar.. jadi selama ini istana yang ia maksud adalah hatiku?? Tuhan.. bodohnya aku. Kenapa aku baru sadar sekarang. Tak sedikitpun terbesit dipikiranku bahwa permintaannya begitu sederhana. Harusnya aku bisa menyadari ucapannya yang begitu dalam.
Aku hanya bisa duduk terdiam. Begitu senangnya hatiku hingga aku tak mampu berkata apa-apa. Aku dan dia saling terdiam dan sesekali mencuri pandang satu sama lain. Oh tuhan,, inikah yang namanya akhir bahagia? Kami duduk berdua dibawah sinar rembulan dengan menikmati merdunya suara angin dan memandangi langit yang terasa penuh dengan lukisan ungkapan perasaan kami berdua..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar