Jumat, 06 Desember 2013

lumba-lumba dan ikan duyung

mungkin hanya hujan yang mampu mendengar isi hati dari seekor ikan duyung. resonansi dari tiap tetesannya selalu mampu mengingatkannya akan segala janji yang pernah diucapkan oleh sang lumba-lumba kepadanya.
di dasar laut yang indah itu,, lumba-lumba pernah berkata kepada ikan duyung.  "jangan pernah kau ragukan isi hatiku kepadamu. aku akan dengan sabar menantimu hingga kau benar-benar bisa menerima diriku dengan sepenuhnya ". ikan duyung hanya bisa tertegun tak mampu berkata apa-apa saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut lumba-lumba. antara bingung dan resah bercampur aduk menjadi satu dalam pikiran.  "kau tahu kan kita tak mungkin bisa bersama. dunia kita berbeda dan aku tak mampu keluar dan melewati batas yg ada diantara kita". ucap ikan duyung. " perbedaan adalah sebuah anugerah dari tuhan untuk kita. kenapa kita tidak bisa menerima itu dan menjadikannya sebuah keindahan". seru lumba-lumba.

semenjak itu ikan duyung merasa yakin bahwa lumba-lumba adalah yang terbaik yang diberikan tuhan untuknya. dan perlahan ikan duyung pun mulai memahami bahwa cinta memang mempersatukan perbedaan yang ada pada diri mereka. kita tak bisa memaksakan semuanya harus sama karena pada dasarnya memang beda dan beda itu indah..

hari demi hari kulewati semuanya bersamamu. susah senang telah menjadi bagian dalam lembaran kisah kita. dan aku bahagia melewati itu bersamamu.. 'bisik ikan duyung dalam hati. suatu hari lumba-lumba berkata, " bila suatu hari nanti cobaan besar menghampiri kita, jangan pernah cepat menyerah. kau punya aku, aku punya kamu. kita hadapi semuanya bersama"

hingga saat ini kata-kata itu masih terus membekas didalam benak namun perlahan semua itu hanya menjadi sebuah kepingan bingkai yang mulai rapuh. nyatanya saat cobaan itu datang, lumba-lumba tak mampu memenuhi ucapannya.. dia menyerah dan pergi. seolah-olah semua yang pernah dia ucapkan hanyalah sebuah ungkapan puisi yang tak bermakna..

lumba-lumba,, kini aku sadar bahwa kau bukan untuk diriku namun kau ada untuk menjadi bagian dari lembaran hidupku.

Kamis, 03 Januari 2013

sang kumbang dan peri kecil


Dibawah langit senja, duduk seorang peri kecil diatas bebatuan dengan wajah tertunduk lesuh. Dari kejauhan, sang kumbang yang telah lama mengamati peri tersebut mulai penasaran. Ia pun mulai mendekat dan mendekat ke arah sang peri. Namun, ia tak bisa lebih dekat lagi. Ia sadar bahwa harus menjaga jarak dengan seorang peri.
Konon, seekor serangga termasuk kumbang tak diijinkan tuk bertatap muka dengan peri. Nantinya tubuh serangga akan lemah dan perlahan berubah menjadi bunga. Begitu pula dengan sang peri. Tubuhnya akan mengecil dan kekuatannya akan musnah. Tapi, semakin lama sang kumbang tak dapat menahan diri. Ia tak sanggup menahan pedih yang dirasakannya saat melihat salah satu sayap sang peri patah. ‘aku harus menolongnya’, batin sang kumbang. Ia pun memberanikan dirinya untuk mendekat ke arah si peri tersebut.
Si peri begitu terkejut dan terperanjat kaget saat melihat ada seekor kumbang berdiri tepat dihadapannya. “kumbang? Apa yang kau lakukan disini? Pergilah sebelum dewa langit melihat kau dan aku.” Seru si peri. Namun sang kumbang tak juga beranjak dari tempatnya dan tetap berdiri menatap sayap si peri yang patah. Hal ini membuat si peri makin tak kuasa untuk menahan rasa marahnya. “demi dewa langit, ada apa denganmu. Cepat pergi!!!kau bisa dalam bahaya.” bentak si peri. Sang kumbang pun mulai mendekat ke arah sayap peri yang patah dan berkata, “aku hanya ingin membantu mu. Aku tahu sayapmu patah dan kau tak mampu terbang tinggi.”. “bagaimana mungkin? Kau tak mungkin bisa membantuku. Sebaiknya kau pergi. Jangan hiraukan aku” Ucap si peri. Sang kumbang hanya tersenyum mendengar ucapan si peri dan ia tetap bersikeras menolong peri tersebut. Perlahan ia mulai mematahkan salah satu sayapnya dan memberikannya kepada sang peri.
Si peri yang berada tepat dihadapannya hanya bisa diam terpaku melihat yang dilakukan sang kumbang. Air matanya mulai menetes dan ia tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia tak sanggup menahan sang kumbang. Gerakan sang kumbang begitu cepat. Saat itu juga Ia tersadar dan beranjak dari tempatnya menopang tubuh kumbang yang mulai lemas. “apa yang kau lakukan?kenapa kau mematahkan sayapmu yang berharga itu. .” seru si peri dengan berlinang air mata. “kau tahu kan bahwa hanya sayap dari kami yang mampu mengembalikan sayapmu seperti sedia kala. Dan aku tak ragu tuk memberikannya kepadamu. Walaupun aku harus mengorbankan nyawaku.” Jawab sang kumbang.  “aku tak mampu menerima ini. Lebih baik aku tak bisa terbang untuk selamanya.” Tangis si peri. Dengan tenang, sang kumbang berkata “kau telah menyelamatkanku disaat aku terjebak diantara dua burung yang akan memangsaku. Tanpa ragu kau menyelamatkanku. Ijinkan aku tuk membalas kebaikanmu dan berubah menjadi bunga. Dengan begitu aku akan tetap bisa melihatmu setiap saat.”

Rabu, 02 Januari 2013

hujan

Hujan..
tetes demi tetes perlahan membasahi jiwa-jiwa yang telah lama menantikan aliran deras air dari awan. dalam sekejap memenuhi segala ruang dengan air. basah dan basah.. itulah bekas yang ditinggalkannya. setidaknya hujan datang dengan memberi tanda pada awan-awan. tanpa buang waktu, awan pun akan berubah suasana jika hujan menghendaki air turun. pertanda itu yang membuat segala penghuni bawah langit sejenak mempersiapkan diri. lain halnya dengan cinta yang datang dan pergi tanpa pertanda terlebih dahulu. jika ia datang, ia akan langsung menggetarkan jantung ini dan.. yah kau pasti tau sendiri apa selanjutnya yang terjadi jika hatimu telah dilanda cinta. jatuh cintapun tak dapat dielakkan mulai melanda jiwa. siap tak siap kau harus mampu bertahan menyambutnya dan menghadapi segala pahitnya cinta...

hidup itu bebas...


Seorang gembala pernah berkata, “ lebih baik hidup bebas dan memiliki teman sebanyak-banyaknya. Jangan bergaul dengan orang yang sama setiap harinya. Karena pada dasarnya masing-masing orang akan berpikir bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Sehingga mereka akan selalu menuntut satu sama lain menjadi seperti yang mereka inginkan.” Terkadang benar juga ucapan dari seorang gembala.
Nampaknya hidup menjadi lebih berwarna tak membosankan. Terasa begitu menyenangkan saat kudengar tentang kisah hidupnya lebih dalam. Berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Merasakan hal baru, bertemu kawan baru dan menghirup udara segar dari tempat berbeda. Alangkah bebasnya. . . tak perlu merasa marah, kecewa atau sakit hati karena pendapat orang lain tentang kita. Karena mereka hanya sekedar mengenal kita, tak lebih. Tak ada yang akan tahu kebiasaan kita yang barangkali bagi orang lain tidak menyenangkan. Masa bodoh dengan semua itu. Semua terasa bebas. . ingin berucap apapun atau bertingkah anehpun tak akan jadi masalah. Toh belum tentu akan berjumpa lagi.
Wahai sang penggembala, bolehkah aku ikut serta bersamamu berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Ikut serta merasakan indahnya hal baru yang kau rasakan tiap saat.